Home / Seputar Jatim / LDII-UINSA Lanjutkan MoU Diklat Dakwah dan Fiqh
Penandatanganan MoU Diklat Dakwah dan Fiqh LDII-UINSA
Penandatanganan MoU Diklat Dakwah dan Fiqh LDII-UINSA

LDII-UINSA Lanjutkan MoU Diklat Dakwah dan Fiqh

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Jawa Timur memperpanjang MoU dengan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) terkait pelaksanaan Diklat Dakwah dan Fiqh. Penandatangan dilakukan di Aula Fakultas Syariah dan Hukum UINSA, Sabtu (17/12).

MoU itu adalah kerjasama antara DPW LDII Provinsi Jawa Timur dengan Fakultas Syariah dan Hukum UINSA. Penandatanganan dilakukan oleh Ketua DPW LDII Jatim, Drs. Ec. H. M. Amien Adhy dengan Wakil Rektor III UINSA, Prof. Dr. H. Ali Mufrodi, MA.

Pasca menandatangani MoU, Ali Mufrodi sekaligus membuka acara diklat angkatan ke-6 ini. Selama kurunwaktu itu, UINSA dan LDII telah melahirkan sebanyak kurang lebih 480 orang da’i. “Diharapkan dalam penyampaian dakwahnya dapat mengikuti perkembangan zaman serta menjangkau ke seluruh wilayah di Indonesia, seperti Papua, NTT, Maluku, dan wilayah lainnya,” kata Ali Mufrodi.

Diklat ini mengangkat tema “Dialektika Dakwah Inklusif Dan Fiqh Transformatif“. Acara yang dilaksanakan 17-18 Desember 2016 ini diikuti sekitar 100 da’i yang hadir dari utusan DPD dan pondok pesantren di 38 kabupaten/kota Jawa Timur.

Ketua DPW LDII Jawa Timur, Drs. Ec. H. M. Amien Adhy mengatakan dalam sambutannya, bahwa para da’i ini memegang peran penting sebagaimana seorang manusia muslim. Da’i dapat menunjukan kapasitas rahmatan lil alamin dalam dakwah dan menciptakan suasana damai di kalangan masyarakat.

“Seorang da’i adalah mereka yang bergelut langsung dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, mampu menerjemahkan hukum agama menjadi pesan moral dan memberikan semangat umat Islam dalam upaya membangun sinergi, sehingga seorang da’i harus mempunyai keterampilan untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan umat Islam,” kata Amien.

Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Dr. H. Sahid A.M. M.Ag yang juga memberikan sambutan, mengatakan bahwa menjadi da’i harus bisa menjadi penyampai dakwah yang netral. “Tidak kekiri-kirian, dan tidak kekanan-kananan,” ujar Sahid.

Lebih lanjut Sahid mengatakan, kegiatan pelatihan ini seiring dengan paradigma berpikir LDII. “Menjadi kelompok Islam berkualitas dengan nuansa berbasis dakwah,” kata Sahid.

Penulis: Marisa/Marieta
Editor: Widi Yunani

Check Also

WhatsApp Image 2017-10-02 at 19.52.36

Tingkatkan Kualitas Mubaligh, LDII Jatim Gelar ToT Tahfidzul Quran

Guna mencetak generasi penerus bangsa yang profesional religius, para muballigh (red: penyampai agama) harus lebih …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *